Matdon, Sang Pewarta Penulis Bubur Ayam

Jum'at, 29 Maret 2019 21:41 Erni Nur'aeni Sosok

Matdon, Sang Pewarta Penulis Bubur Ayam

 

Koropak.co.id - Kumpulan cerita pendek (Cerpen) yang bertajuk "Bubur Ayam" merupakan salah satu karya dari seorang penulis asal Bandung yaitu Matdon, dengan gaya bahasa sehari-hari dan mudah dimengerti.

Hal itu menjadi salah satu keunikan dalam setiap isi bacaan "Bubur Ayam", sehingga mendorong Berangda57 untuk mengupasnya bersama dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Cafe and Resto Route 66 Kota Tasikmalaya, Selasa (23/3/2019).

Kata Matdon, buku tersebut terinspirasi dari seorang dalang yang bercerita tentang dua orang kakak beradik beradu mulut karena masalah sepele yaitu berpendapat bubur yang telah mereka cicipi lebih enak dibanding lainnya. Namun tidak sampai berkelahi sehingga oleh Matdon ditulis ulang dan lebih dramatis dari sebelumnya.

"Jadi ada dua orang yang 'pasea' bahwa bubur ayam pasar Ciroyom lebih enak dari bubur ayam pasar Andir namun tidak sampai berkelahi, makanya biar jadi lebih dramatis saya tulis mereka berkelahi. Kemudian masuk rumah sakit. Di rumah sakit, mereka masih memperebutkan hal yang sama," ujarnya.

Ia memilih Bubur Ayam dalam kumpulan cerpennya karena makanan tesebut sangat dekat dengan masyarakat di kehidupan sehari-hari, bahkan ada yang menyangka bahwa kumpulan cerpen ini adalah buku resep membuat bubur ayam.

"Ada yang nge-DM ke akun Instagram saya, 'kang itu menu bubur ayam baru?', saya bilang 'iya'. Saya tidak tahu bagaimana dia setelah baca itu. Karena dia pikir itu adalah buku resep masakan," katanya.

 

Koropak.co.id -  Bubur Ayam, Berawal Dari Dongeng Sang Dalang (1)

 

Baca : Literasi Harus Membangkitikan Gairah Menulis

Matdon menjelaskan keinginannya mempersoalkan permasalahan atau kejadian sehari-hari di kehidupan sepertibubur ayam, gehu, pencurian korek api, main gapleh, dan lainnya. Sebab selama ini terkadang orang sering bertengkar merebutkan hal yang sepele sampai menyulut pertengkaran, sehingga membuat ketidaknyamanan antar teman atau sanak saudara.

"Pokoknya hal sederhana yang ditemui di kehidupan. Bahkan kita sering tertipu dengan diri sendiri seperti mie goreng instan yang sebetulnya itu direbus bukan digoreg. Itu merupakan pengingkaran budaya yang dibiarkan tetapi tidak dosa," ujarnya.

Matdon mulai menulis sejak di bangku SMP dan telah melahirkan 7 buku, satu esai, dan satu cerpen. Ia berpesan untuk terus menulis supaya hidup menjadi lebih hidup, karena dengan menulis dapat menghidupkan diri sendiri.

 

Koropak.co.id -  Bubur Ayam, Berawal Dari Dongeng Sang Dalang (3)

 

Baca : Kupas Novel Jais Darga Berikan Kesan Bermakna

"Dengan kita menulis maka hidup akan menjadi hidup, karna dengn menulis sama dengan menghidupkan diri kita, wartawan misalnya akan sangat percuma bertahun-tahun menulis tetapi tidak punya buku, buku apapun minimal dokumen berita itu dikliping untuk keluarga saja jadi kita benar-benar mempunyai suatu karya," katanya.

Bahkan Matdon merasa malu dengan seorang seniman yaitu Mas Putu Wijaya. Di usianya yang sudah mencapai 80 tahun masih tetap berkarya, dengan karya-karya yang luar biasa.

"Saya merasa malu dengan putu wijaya karena selama ini dia mengetik hanya menggunakan jempolnya namun bisa mengasilkan karya yang luar biasa. Sok, rek teu malu kumaha jaba hade pisan," kataya.

Matdon pun menilai Tasikmalaya dan Cirebon kiblatnya sastra di Jawa Barat, karena dari keunikan daerahnya masing-masing, bisa diangkat berbagai cerita dari sisi kehidupannya di masyarakat maupun adat istiadatnya.

"Pesan saya menulislah mau jelek atau bagus yang penting nulis untuk masa depan," ucapnya.*

 

Baca : Bedah Buku Bersama Asma Nadia