Katak Gadjah Mada, Satwa Endemik Baru Sumatera

Jum'at, 08 Maret 2019 16:52 Dede Hadiyana NewSmart

Katak Gadjah Mada, Satwa Endemik Baru Sumatera


Koropak.co.id - Baru-baru ini, peneliti Indonesia menemukan spesies katak jenis baru dengan nama latin Microhyla Gadjahmadai Atmadja. Nama katak asli Indonesia tersebut diambil dari nama Mahapatih Kerajaan Majapahit yakni Gadjah Mada.

Pertama kali, katak tersebut dikoleksi pada tahun 2010 oleh Amir Hamidy, peneliti katak dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Penelitian berikutnya dilakukan oleh Eric N. Smith dari University of Texas Arlington Amerika Serikat dalam ekspedisi bersama di Sumatera sekitar tahun 2013-2015.

Menurut Amir Hamidy, pemilihan nama Gadjah Mada sendiri didedikasikan untuk Mahapatih Gadjah Mada yang menyatukan Nusantara di era kerajaan Majapahit.

"Penemuan jenis baru Microhyla Gadjahmadai ini menambah kekayaaan jenis amfibi Indonesia dan menambah daftar jenis marga Microhyla menjadi 10 yang 6 di antaranya ditemukan di Sumatera. Hingga saat ini, sudah tercatat sebanyak 407 jenis katak asli Indonesia," ujarnya.

Penemuan katak jenis baru ini berawal dari ditemukannya katak yang menyerupai Microhyla Achatina di Lampung dan Bengkulu sejak tahun 2010. Namun sebelumnya, tidak diketahui bahwa katak tersebut merupakan jenis baru.

"Secara morfologi, katak tersebut sangat mirip dengan Microhyla Achatina, namun belum ada yang menduga jika katak tersebut merupakan jenis baru," katanya.

 

Koropak.co.id - Katak Gadjah Mada, Satwa Endemik Baru Sumatera (2)

Katak jenis baru ini tersebar di Bengkulu, Jambi, Lampung, dan Sumatera Selatan yang berada di ketinggian sekitar 700-1600 Mdpl. Habitatnya berada di area yang memiliki sumber air seperti area dekat aliran sungai, kolam, sawah, serta perkebunan warga.

"Jika dilihat dari bentuk fisiknya, katak Gadjah Mada ini memiliki ciri khas ukuran kecil dengan ukuran panjang tubuh dewasa kurang dari 3 cm dibandingkan dari jenis Achatina," ujarnya.

Ciri khas lainnya, lanjut Amir, letak lubang hidung yang cenderung di tengah antara mata dan ujung moncong. Disamping itu, katak ini juga memiliki ciri pola garis hitam yang samar dan pendek pada bagian temporal.

"Di tahun 2011, publikasi Masafumi Matsui dari Kyoto University Jepang dan tim yang mengindikasikan perbedaan antara jenis Microhyla Achatina yang berasal dari Jawa dan temuan dari Sumatera berdasarkan karakter molekularnya," ucapnya.

Hasil temuan katak Gadjah Mada tersebut dipublikasikan dalam jurnal Treubia volume 45, tepatnya Desember 2018 lalu. Saat ini, koleksi referensi jenis baru katak Microhyla Gadjahmadai disimpan di Muzeum Zoologicum Bogoriense, Jawa Barat.*