Afrudin Achmad, Dari Hobi Menjadi Profesi

Jum'at, 01 Februari 2019 14:11 Erni Nur'aeni Sosok

Afrudin Achmad, Dari Hobi Menjadi Profesi

 

Koropak.co.id - Ketua Komunitas Seni Managemen Pinggiran Afrudin Achmad diundang ke Jerman oleh seorang seniman Hans-Joerg Waskowski, selama 30 hari di Negara yang kaya akan seni lukis dan seni rupanya.

Kata Afrudin, di Jerman, ia berbagi pengalaman sekaligus belajar dengan melihat langsung aktivitas komunitas yang dikelola Hans-Joerg Waskowski yang akrab disapa Wasko. Tidak itu saja, ia diminta untuk mengajar serta menjadi asistennya, karena perupa di sana mengalami beberapa kesulitan. Bahkan, Afrudin pun membantunya dalam beberapa teknik.

"Di sana lebih ke sharing serta belajar dan ngajar. Di komunitas Pak Wasko banyak sekali kegiatannya, terutama untuk seni rupa. Saya ditunjuk menjadi asistennya karena perupa di sana masih mengalami kesulitan di beberapa teknik," ujar Afrudin yang mengaku menyukai seni sejak SMP pada 1980 lalu.

Afrudin juga mengajar di SMP dan SLB Jerman sampai mengadakan pameran tunggal. Selama di Jerman ia mengambil banyak hikmah dari segi keilmuannya. Afrudin memberikan dua teknik yang belum diketahui oleh para perupa sebelumnya, yakni water colour pencil dan oil pastel, yakni teknik mencampur berbagai minyak seperti minyak telon, minyak sayur, hingga BBM.

"Teknik water colour pencil pada umumnya setelah disketsa, langsung diwarnai, kuasnya dicelup air. Kalau saya berbeda cara pengaplikasiannya. Sedangkan teknik oil pastel, mencampurkan berbagai minyak yang ada sehingga menghasilkan cat minyak yang bagus, bahkan hal ini mereka sebut teknik Afrudin," ujarnya.

 

 

koropak.co.id - Afrudin Achmad, Dari Hobi Menjadi Profesi (2)

 

Baca : Wood Cutting, Seni Tertua Asal Eropa

Adanya Afrudin di komunitas yang dikelola Wasko, menjadi warna baru bagi mereka. Bahkan mereka sangat terbuka dengan pembelajaran yang diberikannya.

"Komunitas mereka sangat terbuka. Bahkan tidak memandang saya dari Indonesia, justru mereka sangat membuka diri dan meminta saya untuk membantu mereka," ujarnya.

Bagi Afrudin, bisa diundang ke Jerman merupakan suatu keuntungan tersendiri, karena dapat menimba ilmu yang jarang-jarang dijumpainya, dan dapat menerapkannya dalam pengajarannya kepada siswa SLB di Tasikmalaya.

"Di Jerman, saya mengajar di SLB, dan saya melihat pengajarannya itu membuka otak kiri dan kanan siswa. Misalnya, kalau mereka terbiasa menggambar menggunakan tangan kiri maka harus menggunakan tangan kanan dan sebaliknya. Bahkan sampai ada yang menggambar dengan dua tangan sekaligus, hal inilah yang bisa diterapkan di Tasikmalaya," kata Afrudin.

Sama halnya ketika diundang ke Jerman, Afrudin mengakui dalam setiap pameran yang diikutinya, ia selalu menampilkan ciri khas dari Tasikmalaya.

Afrudin bersama Managemen Pinggiran mengaku lebih dari 20 kali pameran diikutinya. Afrudin berharap, Pemerintah kota Tasikmalaya dapat lebih memperhatian potensi seni lukis di Kota Tasikmalaya karena para perupa merupakan aset Kota Tasikmalaya, yang sering membawa harum nama Kota Tasikmalaya.*

 

Baca : Grafis Cetak Tinggi Bisa Dipelajari Difabel