Manusia, Alam, dan Lingkungan Saling Terhubung

Kamis, 26 Juli 2018 19:24 Dede Hadiyana Eskul

Manusia, Alam, dan Lingkungan Saling Terhubung

 

Koropak.co.id - Sebagai pemateri di Gelaran "Tepang Tahun" ke-20 Zona Rimba Divisi Informatika (ZARADIKA) yang digelar di kampus STMIK DCI Tasikmalaya Selasa (24/7/2018), Djukardi Adriana atau akrab disapa Abah Bongkeng memberikan tanggapan baik. Menurutnya, kegiatan seperti ini tentunya sangat baik demi menjalin kebersamaan para pecinta alam khususnya untuk wilayah Tasikmalaya.

"Berkaitan dengan adanya pertemuan di acara ini, agar rekan-rekan yang masih muda khususnya Siswa Pecinta Alam (Sispala) mengetahui bahwa berkegiatan di alam bebas khusunya mendaki gunung memiliki tingkat resiko yang tinggi," katanya.

Dengan demikian, kata Abah Bongkeng, mereka inilah yang harus dibekali pengetahuan, dan Komunitas Pecinta Alam (KPA) sebagai kakak dari mereka harus selalu menghimbau bahwa kegiatan mendaki gunung sangat riskan apabila pelaku tidak memiliki wawasan atau teknik bagaimana hidup di alam terbuka.

Hal tersebut memiliki artian mulai dari keselamatan diri sendiri dan juga keselamatan tim. Serta etika pelaku saat bermain di hutan atau gunung agar selalu mawas diri dan selalu harus bisa menjaga alamnya itu sendiri.

Baca : Tepang Tahun Zaradika ke-20 Berlangsung Meriah

 

Manusia, Alam, dan Lingkungan Saling Terhubung

 

"Kita menggeluti kegiatan ini tentu banyak sekali manfaatnya dan juga banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil serta kita simak dari alam. Berkegiatanlah sebaik-baiknya dengan apa yang kita lakukan didalam keseharian dan juga saat kita berkegiatan di alam bebas. Bagi yang akan memulai menyenangi berkegiatan di alam terbuka khususnya mendaki gunung, janganlah bermodalkan keberanian saja," ujarnya.

Demi mengurangi dan memperkecil resiko yang cukup tinggi dalam berkegiatan di alam terbuka, membekali diri dengan pengetahuan wawasan tentang teknik hidup di alam terbuka. Itu cara aman untuk beraktivitas atau berpetualang di gunung hutan. Dengan begitu, kemanapun kita pergi atau berpetualang akan kembali pulang kerumah dengan selamat.

Sepintas membahas tentang konservasi, kata Abah Bongkeng, di Indonesia sendiri sebenarnya dapat dikatakan sudah terlambat, namun peribahasa mengatakan tidak ada kata untuk terlambat. Akan lebih baik apabila mendidik manusia itu sendiri serta sejak dini karena manusia itu tidak luput dari lingkungannya.

"Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dan pembelajaran tentang konservasi harus mulai sejak dini. Khususnya rekan-rekan dari Sispala yang harus diarahkan kepada masalah konservasi, karena mereka dalam masa yang labil namun cepat tanggap.

Abah Bongkeng berharap, semoga kedepannya untuk rekan-rekan pecinta alam dapat sadar bahwa alam itu membutuhkan kita sebagai manusia yang dapat melindunginya agar alam tidak murka seperti sekarang.

"Banyak korban manusia akibat bencana alam, karena memang alam sudah marah terhadap kita dan alam pun enggan bersahabat dengan kita apabila kita tidak merawat dan melindungi alam itu sendiri," ucapnya.*

 

Baca pula : Tepang Tahun Ke-20 Zaradika Digelar Sore Ini