Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit

Senin, 18 Desember 2017 08:10 Eris Kuswara Course

Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit

Lestarikan Seni Sunda Sejak Dini

Koropak.co.id - Kala berbicara masalah seni budaya Sunda tersirat hal-hal yang mengkhawatirkan, termasuk di antaranya seni sunda akan hilang digerus zaman. Derasnya arus globalisasi menyebabkan akses masuk budaya asing semakin terbuka lebar. Tentunya, hal tersebut menjadi sebuah ancaman serius bagi seni budaya asli daerah.

Demikian halnya seni budaya Sunda yang sudah melegenda di tatar Parahyangan. Oleh sebab itu diperlukan upaya serius untuk melestarikan seni budaya Sunda, salahsatunya dengan regenerasi pegiat seni budaya melalui berbagai event seperti halnya yang dilakukan Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit.

Pemilik Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit, Pipit Herlina menuturkan seni budaya Sunda perlu terus dilestarikan dan ditampilkan dalam berbagai kesempatan agar tidak hilang digerus zaman. Hanya saja, masih terbatas pada ketersediaan event-event yang mengangkat seni budaya Sunda.

Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit


"Kurangnya apresiasi menjadi hambatan untuk mengembangkan seni budaya Sunda. Padahal, ini seni budaya kita, bila bukan kita, siapa yang akan melestarikan. Regenerasi itu perlu agar seni budaya Sunda tetap lestari dan tidak hilang digerus budaya asing," ujar Pipit.

Selain mengisi berbagai event Sunda, upaya lain yang dilakukan Pipit untuk konsisten melestarikan seni budaya Sunda ditunjukkan dengan membuka Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit yang didirikannya sejak 2004 silam. Pipit membuka kelas mulai usia 4 tahun.

"Untuk anak-anak, difokuskan pada seni tari, sementara untuk usia remaja diarahkan ke skil bermain gamelan. Sebagai program lanjutan, kami ikut sertakan dalam lomba-lomba. Tidak jarang kami juga diundang untuk mengisi berbagai acara, termasuk kegiatan tahunan Apeksi yang baru-baru ini dilangsungkan di Malang. Kami mewakili Kota Tasikmalaya tampil pada kegiatan tersebut," katanya.

Sanggar Seni Budaya Mayang Binangkit yang beralamat di Jalan Nagrog Kidul Nomor 62 Binangkit, Indihiang Kota Tasikmalaya itu juga merangkul anak-anak putus sekolah sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan sosial. "Kami ajarkan seni budaya Sunda agar mereka memiliki kegiatan, yang diharapkan dapat menjadi keahlian yang dapat menjadi mata pencaharian mereka. Goalnya mengurangi angka pengangguran sekaligus ngamumule budaya Sunda," ucap Pipit.*