Lebih Dekat dengan Darussa'adah, Tuan Rumah Muktamar NU ke-34

Jum'at, 24 Desember 2021 14:40 Eris Kuswara Ponpes

Lebih Dekat dengan Darussa'adah, Tuan Rumah Muktamar NU ke-34

 

Koropak.co.id - Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama (NU), Organisasi Islam Terbesar di Indonesia secara resmi digelar di Provinsi Lampung yang dimulai sejak 23 hingga 25 Desember 2021 mendatang.

Dilansir dari laman NU Online, salah satu lokasi yang digunakan untuk penyelenggaraan forum musyawarah tertinggi NU tersebut adalah Pondok Pesantren Darussa’adah yang terletak di Lingkungan III Celikah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah.

Berdasarkan sejarahnya, diketahui bahwa Pesantren Darussa’adah yang berada di Lampung Tengah itu didirikan pada 22 Rajab 1406 Hijriah atau bertepatan dengan 2 April 1986 oleh KH Muhsin Abdillah.

Kini, KH Muhsin Abdillah sendiri menjadi Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung. Pesantren yang berdiri di atas tanah seluas 4.000 m2 itu memiliki lebih kurang 750 santri dengan ratusan tenaga pendidik yang ikut serta mengabdi di dalamnya.

Keberadaan Pesantren Darussa’adah juga saat ini tidak lepas dari dinamika perjalanan hidup KH Muhsin Abdillah yang terlahir dari pasangan H Misran dan Hj Safurah di Banyu Urip, Binangun, Blitar, Jawa Timur pada 23 September 1951 silam.

Pada tahun 1960-an, orang tua Kiai Muhsin pun berpindah ke Desa Sadar Sriwijaya Kabupaten Lampung Timur. Di Lampung, Kiai Muhsin yang saat ini dikaruniai 12 orang anak tersebut nyantri dan mondok di Pondok Pesantren Darussalamah Lampung Timur dibawah asuhan kiai kharismatik Lampung yakni KH Ahmad Shodiq.

Sebelum berpindah ke Lampung, Kiai Muhsin juga ternyata sempat mengenyam pendidikan di Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri, Jawa Timur. Dari dua pesantren inilah, Kiai Muhsin berhasil mendapatkan bekal ilmu agama yang selanjutnya diajarkannya di Pesantren Darussa’adah.

 

 

Baca : Profil Singkat Sembilan Ulama Ahwa Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama

Putra Kiai Muhsin, H Hisyamuddin mengatakan, sebelum mendirikan Pesantren Darussa’adah, Kiai Muhsin atau ayahnya telah mendirikan sebuah pesantren bernama Darunnajah yang letaknya berada di Desa Tanjung Harapan Kabupaten Lampung Timur.

Akan tetapi, kemudian ia bersama keluarga dan 41 santri termasuk mertuanya memutuskan untuk hijrah ke Desa Seputih Jaya dan mendirikan Pesantren baru yakni Darussa’adah.

Seiring berjalannya waktu, saat ini Pesantren Darusa’adah pun diketahui telah memiliki program-program pendidikan madrasah formal dan salaf, pengajian, lembaga, kursus-kursus, dan pelatihan serta kegiatan-kegiatan keagamaan serta sosial kemasyarakatan.

"Pesantren Darussa’adah juga telah memiliki lembaga pendidikan formal yang diberi nama Assa’adah mulai dari Raudlatul Athfal (RA) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA)," kata pria yang akrab disapa Gus Hisyam itu sebagaimana dihimpun Koropak dari nu.or.id, Jumat 24 Desember 2021.

Sampai dengan saat ini, Pesantren Darussa’adah sendiri tetap mempertahankan sistem pendidikan salaf dengan berbagai kajian kitab kuning khas pesantren NU. Bahkan secara garis besar, Pesantren Darussa’adah juga memiliki peserta didik yang terbagi menjadi tiga macam, yaitu santri diniyah, santri formal dan santri tahfiz.

Untuk santri diniyah, merupakan santri yang mengikuti jenjang kegiatan madrasah berbasis agama Islam. Sementara untuk santri formal, adalah santri yang mengikuti kegiatan pembelajaran sekolah umum atau formal, baik itu dengan menetap di pondok maupun dari luar pondok.

Sedangkan untuk santri Tahfiz, adalah santri yang mengikuti kurikulum pesantren dengan spesifik fokus pada hapalan al-Quran.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini